NOSTALGIA masa SMA

Kamis, 09 Mei 2019

NOSTALGIA MASA SMA

Hampir semua orang mengakui, masa SMA adalah masa paling indah dan punya sejuta cerita. Mulai dari 'pemberontakan' pada aturan, ujian kesetiakawanan, hingga masa-masa cinta pertama bersemi. Tak heran jika masa SMA selalu menyimpan kenangan yang tak terlupakan. Begitu indahnya masa SMA masa Dimana semua serba "AKU" hehehe aku Yang cantik ,aku Yang pintar dan sebagainya..2005 ya tahun dimana aku mulai masuk SMA "hai Sapa teman baruku " ya Ada seorang cewek yang menyapaku ketika aku masuk kelas dan akhirnya Kami satu bangku waktu itu. Hari pun ku lalaui dengan gembira karena serba AKU ,.ketika Naik di kelas ll SMA aku mendapat begitu banyak teman yang kebetulan waktu itu aku ngambil Jurusan IPA dan di sinila aku mengerti arti Persahabatan Yang sesungguhnya






ABLE itula julukan untuk kami waktu itu ya seperti anak zaman NOW pakai GENG hehehe ABLE adalah nama GRUP PERSAHABATAN  Karena di masa inila aku bisa menemukan sahabat 9 cewek cantik yang sekarang  suda sukses sebagainana cita-cita mereka ABLE terdiri dari 1o cewek KECE hehehe jadi malu!!! Tapi ini Fakta lo, waktu itu kemanapun,dimanapun kami selalu 10orang sampai sampai kalau naik Anggkot orang pada RISI karena kehadiran kami,,yang lebih Konyol lagi waktu itu kami pake sumpah janji "Diantara kami tidak boleh ada yang pacaran dulu sebelum tamat SMA hehehe apa ya???" .masuk semester 2 kelas ll aku mulai menegenal cinta tapi kan gak boleh pacaran dulu jadi cukup mengagumi saja "Mr End" ya diala cowok pertama yang aku kagumi sewaktu di SMA tapi itu sebatas angan2 saja tak menjadi Nyata kayaknya samapai sekarang DIA masi benci banget sama Aku hemmmmmm kasian!!! .. dari sini la aku selalu berpikir siapa aku????apa kurangnya aku???? Ya aku malu pada diriku sendiri karena Cinta itu Bertepuk Sebela Tanggan.


Tahun kenaikan sudah di depan mata ya aku berhasil Naik ke Kelas lll IPA alhamdulillah persahabatan kami pun masi kompak tapi cerita cintaku tak berujung karena bersetatus Hanya Mengagumi DIA .aku diam dan menahan tangis jika melihat DIA berjalan dengan cewek lain yang kebetulan Beda sekolah.hari berganti hari Rasa ini semakin sesak aku mencoba melupakanya tapi aku tak mampu hingga aku memberanikan menulis SURAT untuknya dengan harapan Dia mau menjadikan aku orang Spesial di hatinya tapi apa daya semua hanyala ilusi belaka dari sinila Dia mulai Membenciku dan mungkin sampai sekarang aku pun tak tau kemana harus aku mencari JEJAK Yang Hilang itu.,,,apaka DIA sudah Menikah ??? samapai sekarang RASA itu masi bersembunyi di HATI ini. semoga saja  suatu sat nanti aku bisa bertemu denganya walau hanya sedetik saja.,,,

Unilateral Kisa nostalgia masa SMA 

JANDA

Kalau belum pernah tahu bagaimana rasanya SENDIRI, KESEPIAN, MENAHAN AIR MATA. Kalau belum pernah tahu bagaimana rasanya mengerjakan pekerjaan yang seharusnya tak dilakukan wanita. Maka jangan semena-mena menjudge apalagi sampai menghina dan remehkan JANDA. Single parent yang berjuang mencari nafkah sendiri itu tidak mudah. Menjaga dan merawat anak-anak sekaligus menjadi sosok ayah bagi mereka, jangan dipikir itu mudah. Wanita yang harus mengimbangi antara ekonomi keluarga dan kehormatan diri sama sekali tidak mudah. Terlebih .. Kamu melihat saudarimu yang menutup aurat dan dia janda Lalu dengan sengaja dan seenak bergumam *itu sih di rumah saja, pakaiannya tertutup banget, gk kerja apa apa kok punya uang yaa? *Kok bisa nafkahi anak anaknya ? Perhatikan .. Yang kamu lihat terkadang tak seperti kenyataan Jangan gampang mencibir ... Pulang malam selesai kerja .. di cibir Iiihhh, pulang malam jilbab panjang gitu Pulang siang, selesai kerja .. di cibir, kerja apa tuh sebentar amat, Pulang sore, selesai kerja .. di cibir, tumben tepat waktu Jangan yaaaaa!! Ingat oleh kita, Kita tidak selamanya bersuami... Anak kita tidak juga selamanya memiliki suami Takutlah jika apa yang kita cibirkan justru menimpa kita sendiri Atau orang dekat yang kita sayangi... Entah ditinggal suaminya meninggal, cerai ,ataupun di tinggal begitu saja Sayang ... Kamu tau, bahwa jika hanya melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak .. itu biasa, semua wanitapun sama dan bisa. Karena Allah memang mengkodratkan wanita untuk itu dan memberikan kekuatan wanita untuk hal tersebut Namun, tidak dengan "kesendirian" Melakukan banyak hal yang bukan kewajibannya Semua butuh proses lebih sabar, sabar, dan sangat sabar Dan kita hanya penonton kehidupan Yang mungkin terbiasa menadangkan tangan Yang mungkin belum tau rasanya melewati rintangan Jangan lagi mencemoohnya Karena begitu sangatlah tidak mengenakan jika tetiba kamulah yang Allah posisikan.ELPA-WATI.BLOGSPOT.COM

Rabu, 08 Mei 2019

KERIPIK PARE

Bahan-bahan
  1. 4 Biji Parè atau 800 gram
  2. Ketumbar 1 sdm Haluskan
  3. Kemiri 3 butir Haluskan
  4. Bawang putih 3 ruas haluskan
  5. Telur 1 butir
  6. Kencur 2 siung kecil haluskan
  7. Garam secukupnya
  8. Tepung Beras 1/2 kg
  9. Tepung sagu 1/4 kg 
  10. Penyedap rasa secukupnya
  11. Air secukupnya 
  12. Daun jeruk iris tipis secukupnya saja ya.
CARA MEMASAK
potong Pare  menjadi 2 bagian lalu bersikan dalamnya kemudian cuci bersih dan iris tipis menyerupai keripik, 

Selesai di iris pare di cuci bersih dg garam atau bsa di tambah penyedap rasa utk menghilangkan rasa pahitnya "ingat!!!! Utk peroses pencucian saja setelah itu redam selama 30 menit dg air garam dn penyedap rasa tadi.

Sembari menunggu perendaman buat adonan bumbu yg sdh di haluskan caranya : Siapakan wajan campur semuah bahan dan bumbu halus ke dlm wajan lalu beri air secukupnya buat menjadi kental ya ,,, tambahkan 1 butir telur yg sdh di siapkan setelah itu tiriskan pare dn Siap utk di goreng . SELAMAT MENCOBA YA

CERITA KEHIDUPAN

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.


“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.