NOSTALGIA masa SMA

Rabu, 14 Agustus 2019

LEMBARAN HITAM


Massa yang lalu telah pergi meninggalkan seberkas kisah yang panjang dan melelahkan. 
Kisah yang tak kan pernah usai dengan cerita-cerita unik dan menggairahkan, 
Namun aku disini kan tetap bermain dengan egonya logika kehidupan ku, dengan diiringi nada-nada perang pemikiran dalam batin ini. 
Aku tak tertidur dalam peraduanku, 
Aku juga tak bersenandung dalam mimpi-mimpi ku. 
Namun aku disini menendangkan nada-nada sendu dalam diamku. 
Dan aku kan berdiri tegak terbalut canda dan tawa dalam kelumpuhanku. 
Aku tahu aku tak lagi seperti yang dulu, 
Dimana bermain dalam istana hati maya dan kenyataan. 
Hingga aku tak mampu lagi melihat indahnya nyata kehidupanku. 

Perlahan massa menepuk pundakku, membangunkan ku pada peraduan ku. 
Detik pun membisikkan ketidakmampuanku dalam sadarku. 
Gelombang kerapuhanku membelit keutuhan kepercayaanku, 
Hingga aku pun lumpuh dalam diam. 

Tapakkan-tapakkan kaki telanjang diatas serpihan hati yang tlah remuk, menyadarkan bahwa kini aku telah memulai massa kehidupan yang baru. 
Sisa-sisa kisah yang lama terkantongi dalam keranjang kisah baru nan tak utuh. 

Lengkap sudah kisah yang kau berikan pada ku, 
Hadirmu perlahan memudar dengan tenggelamnya senja dalam hempasan keringnya batin. 
Kisah yang tak pernah ada arti keindahan, 
Kisah yang tertulis dikarenakan egonya pembuktian pada yang lain. 
Namun, permainan hati ini tertatih-tatih tuk berusaha menemukan madu diantara kehampaan sebuah komitment. 
Tak ada senyum, canda, dan tawa yang selama ini terlukiskan dalam kosongnya ruang hati. 
Hingga akhir dari sebuah kisah telah terlengkapi. 

Kau yang pernah memberikan warna dalam hati, 
Kau yang pernah mendendangkan melodi romansa dalam sanubari, 
Dan kau pula yang pernah singgah menerangi gelapnya sebuah kehampaan. 
Namun kini, semua itu terhempas meninggalkan seiring hembusan nafas yang berhembus. 

Kau menghitam putihkan asa, 
Meninggalkan segores luka pada hati, 
Hingga hitam nya sebuah kekosongan kembali bersanding. 
Indahnya rajutan-rajutan mimpi yang dulu tercipta senantiasa membalut hariku. 
Namun, perlahan terlepas dalam sebuah keangkuhan. 

Kala merpati putih menyapa lembut menyesakkan jiwa, 
Membenamkan ku pada dalamnya kesedihan. 
Yang tersisa hanyalah seulas senyuman dari bibir kepalsuan. 
Dengan penantian secuil harapan yang tersisa kan jadi sebuah barunya sebuah kebahagiaan. 
Kisah telah terlengkapi, 
Kini yang dapat ku lakukan hanyalah mengemas dalam lukanya peti hati, 
Dengan akhir cerita yang tergoreskan di naskah hidupku, 
Yang kau berikan sampul perihnya sebuah senyuman pada sebuah merpati putih mu. 

Lantunan melodi ayat hati tak tentu, 
Membutakan asa siapa yang sedang dimainkan. 
Yang terkecap hanyalah ombang ambing ketidakpastian abunya rasa. 

Pertanyaan-pertanyaan liar memanjakan ku dalam kisah kebisuan. 
Apakah aku harus meminta jawaban pada sang bisu. 
Ataukah mengemas semua itu dalam luka hati yang menganga perih ? 
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. 
Hingga pertanyaan liar itu mengabadikan ku dengan jawaban yang tak terjawab. 

Massa penantian kembali mendampingi kisah nyata ku, 
Walau mayanya kisah yang lain kembali menari menggoda. 
Memaksa asa ini bermain kembali dalam kemayaan. 

Dalam diam aku menyapa mekarnya sekuntum pesona. 
Menebar wangi romansa untuk perubahan abadi. 
Tak ada kata yang terucap, 
Kala alam pun tak merestui adanya sebuah perubahan. 
Selimut senyum kepalsuan terulas lembut di bibir yang mencibir. 
Nanar yang terpana akan ketidakpastian dalam sebuah perjuangan. 
Usaha yang selama ini telah terlantunkan halus berhembus, 
Tak terestui dalam ketidak pantasan. 

Mekarnya pesona dituntun kerasnya ego yang buta, 
Lelah batin yang menguras daging menutup kembali pesona yang tlah mekar, 
Kesedihan terlukiskan dalam wajah yang sayu. 
Pujian dalam bertahan perlahan ku dendangkan, 
Miris nya asa membutakan kenyataan, 
Menanti kunci akhir mekar sekuntum pesona bersanding dengan bahagia kerasnya ego. 

Kini dikala aku beranjak pergi membawa luka hati, 
Aku harus menoleh kembali akan kisah yang lalu. 
Meragukan ku akan arti sebuah penderitaan dan perjuangan. 
Melamunkan ku menemukan hati yang mana yang terluka. 
Aku tak paham akan semua ini. 
Aku harus melihat siapa yang tersakiti oleh ke egoanku. 
Cinta ataukah kasih ? 

Indah sebuah perdaraan yang dulu terlantunkan, 
Kini perlahan meninggalkan sebuah kasih dalam kesendirian. 
Cinta yang dulu senantiasa mengahiasi hari demi hari, 
Tak mampu lagi menebarkan indah cintanya pada putihnya kasih. 
Hingga cinta pun tak lagi menyapa dalam kasihnya peraduan. 
Kata sayang yang dulu terlontar seperti sampah, 
Kini kata itu menjelma menjadi sebuah kata berselimut emas, 
Membatasi nada-nada kasih maupun cinta dalam satu ikatan yang tlah pudar. 

Cinta ku telah pergi, 
Kasih ku kini diam dalam peraduan penyesalan, 
Mengilhami arti sebuah kebodohan. 
Hingga mata pun tak mampu melihat cinta yang dulu menyapa dengan lembut dalam jiwa ketakutanku. 
Apakah cinta yang dulu dapat memberiku tulusnya sebuah sentuhan dan sapaan sayang dalam massa ku kini? 
Aku ingin terbuai kembali dalam teduhnya romansa cinta dan kasih, 
Aku tak ingin beranjak meninggalkan cintaku pergi bersama yang lain. 
Aku disini menunggu massa yang indah untuk menyatukan kasih ku dan cintaku dalam sebuah mahligai keabadian. 
Tapi aku tak tahu kapan massa itu kan datang. 
Aku juga ragu apakah kasih akan bersanding dengan cinta dalam massa itu. 

Penyesalan menepuk pundakku, 
Membangunkanku dalam buaian sebuah keangkuhan. 
Suara-suara lembut memberiku cahaya dalam gelap. 
Menuntunku melihat dalam nya cinta pada massa yang tlah usai. 
Namun, disaat aku percaya akan cahaya itu, 
Dan Disaat aku kembali merajut indahnya mimpi. 
Aku harus terjatuh lagi pada pahitnya kenyataan. 
Bahwa aku telah dinistakan oleh cinta ku. 
Aku tak tahu apakah aku harus kembali bangkit meraih setitik cahaya harapan yang tlah redup? 
Agar aku dapat tetap bertahan dengan kenistaan yang cinta berikan. 
Hingga kasih pun enggan terbangun dalam kubangan sampah nada-nada sayang. 

Cinta memaksa ku menutup lembar terakhir kisah yang memang harus berakhir. 
Cinta memaksaku menerima bahwa kasihku tak kan dapat mengecap indahnya sebuah romansa mahligai. 
Dan cinta pula yang menunjukkan ku siapakah yang tersakiti dan disakiti dalam kisah ini. 

Mata ini buta akan kenyataan, 
Kenyataan bahwa cintaku telah beranjak pergi meninggalkan ku, untuk selamanya. 
Aku begitu bodoh untuk berteriak jangan tinggalkan aku pada cinta. 
Karena cinta telah lama lama pergi dalam peraduan kasih ini. 

PULAU UBIN

Pulau ubin ialah pulau kecil (10 km²) yang terletak di timur laut singapura, di samping pulau tekong. Di sini banyak tambang Granit yang ditinggalkan di sini. Menurut orang-orang Melayu, pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Batu Ubin. Batu-batu di pulau ini digunakan untuk membuat ubin lantai pada masa lalu dan dipanggil "Jubin", yang kemudian disingkat Ubin.
Pertambangan granit mendukung beberapa ribu pemukim pada 1960an, tetapi hanya 1.000 penduduk tinggal di sini kini. Juga salah satu dari sangat sedikitnya pulau lepas pantai di Singapura yang tetap dihuni.
Pada 3 Juni 2005, pemerintah Singapura memerintahkan bahwa seluruh petani yang memelihara unggas di pulau itu untuk dikapalkan ke tanah utama Singapura dan dipelihara di perkrbunan yang diakui pemerintah dari 17 Juni 2005, segera setelah flu burung dari Malasiyah. Dalam pertukaran, penduduk asli ditawari paket perumahan, walau mereka dapat memilih tinggal di pulau itu.

Pemandangan depan 
Masa depan pulau ini ada di tangan orang-orang Singapura, tetapi statusnya sebagai saksi gaya hidup kuno kemungkinan akan lenyap dengan generasi "kampung" terakhir.untuk mencapai kesana kalian bisa naik MRT line Hijau tujuan Tanah Merah lalu stop di lanjutkan naik Bus 2 tujuan  Changi Village Bus Interchange, jalan sekitar 2 menit menuju Changi Point Jetty (Changi Point Ferry Terminal).tpi ada banyak cara untuk kesana ya,,ini kalau cara aku.
Banyak tanda peringatan di pulau ini untuk kenyamanan maupun keamanan pengunjung, seperti peringatan tertimpa buah yang jatuh, harus menuntun sepeda, tidak boleh berenang di quarry ataupun jalanan yang licin. Keselamatan menjadi yang pertama.
Pulau ini sekarang memiliki hotel yang lokasinya dekat kantor polisi tadi. Untuk yang mau berkemah, harus membawa tenda sendiri dan melaporkan diri, di mana akan berkemah, agar kalau terjadi sesuatu akan diketahui rimbanya.
Ada juga daerah yang memang dilarang untuk dimasuki, kebetulan di bagian sisi timur pulau, ada National Police Cadet Corps (NPCC), yang merupakan sekolah untuk menjadi polisi. Kalau untuk sekedar melewati sah-sah saja, asal jangan memasuki.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah adanya kuburan muslim. Ada dua letak kuburannya, namun kuburan lebih kelihatan seperti hutan, karena kuburannya tidak banyak dan juga tanda nisannya mirip nisan yang ada di kuburan kuno di Pulau Jawa atau kuburan di Jl. Kubor di dekat Kampong Arab (dekat Bugis) di pulau utama Singapura.
Sewaktu memasuki daerah Chek Jawa, di pos penjagaan, tidak ada orang yang menjaga. Ketika itu saya ingin sekali naik ke menara ataupun jalan di dermaga yang ada di Chek Jawa Wetland. Kita tidak diperbolehkan memasuki Chek Jawa Wetland tanpa adanya petugas yang menemani. Karena lama menunggu, saya putuskan untuk bersepeda lagi menuju bukit yang ada di pulau ini.
Ada sekitar lima quarry yang ada di pulau ini, seperti Ketam Quarry atau Ubin Quarry. Semuanya diberi pagar pelindung, supaya pengunjung tidak langsung berenang. Tidak ada penjaga yang mengawasi!
Bagi yang suka bersepeda gunung, joggingataupun berolahraga yang lain, pulau ini menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan udara yang sangat segar, tentunya tempat ini sangat cocok sebagai tempat beraktivitas, sambil melihat “desa” asli Singapura yang Sepi dan tenang. Rumah penduduk tidak banyak dan jarang terlihat orang berlalu-lalang.
Keadaan kampung
Untuk menyewa sepeda itu sendiri kita harus merugu kocek $8 bagi sepeda yang suda Lama sedangkan sepeda yang baru di sewakan berkisar $10 dan $15 singapura.
Keliling dengan sepeda
Sayang sekali, waktu saya berkunjung, belum waktunya buah durian berbuah. Tempat ini terkenal dengan buah duriannya.
Tidak terasa, sudah lebih dari tiga jam saya bersepeda mengelilingi pulau ini. Waktunya untuk meninggalkan Pulau Ubin. Saya menunggu penumpang perahu sampai 12 orang untuk kembali ke Changi Poin.